JAGIR.NGAWIKAB.ID – Pasca 19 Desember 1948, pasukan TNI yang menyingkir di sekitar pinggiran kota Yogyakarta mulai melakukan konsolidasi dan re-grouping kekuatan. Serangkaian aksi balasan dan gangguan terhadap patroli serta kedudukan pos militer Belanda dilakukan walau hanya bersifat insidental dan sporadis.

Aksi-aksi balasan ini hanya bersifat lokal, artinya hanya meliputi satuan TNI atau laskar tertentu dan pada wilayah tertentu pula. Meskipun menimbulkan kerugian pada pihak militer Belanda, namun strategi balasan ini dianggap kurang efektif, terutama dalam mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap eksistensi Republik serta diplomasi internasional.

Menyadari hal ini para pemimpin militer Republik kemudian merumuskan dan merencanakan sebuah Serangan Spektakuler yang dilakukan secara sistematis, terencana dan serentak untuk menunjukkan kepada dunia bahwa TNI sebagai kekuatan penopang Republik masih ada bahkan mampu memberi perlawanan kuat.

Namun demikian, sebelum Serangan Spektakuler itu dilaksanakan, Angkatan Perang Republik sebenarnya telah pula melakukan empat kali “Serangan Umum” terhadap pos-pos kedudukan tentara Belanda di dalam kota Yogyakarta, antara lain pada tanggal 29 Desember 1948, 9 Januari 1949, 16 Januari 1949, dan 4 Februari 1949.

Serangan-serangan ini juga cukup mengejutkan militer Belanda. George T. McKahin menuturkan tentang apa yang dialaminya pada Serangan Umum tanggal 9 Januari 1949. Ketika itu, dirinya berada di Hotel Merdeka (sekarang Hotel Garuda in) Jalan Malioboro.

Kahin yang sedang menulis pada jam 10 malam, tiba-tiba terdengar rentetan senjata otomatis dan dentuman mortir. Listrik kemudian dimatikan dengan tujuan menghindari korban dari dalam hotel yang telah menjadi sasaran serangan tentara Republik.

Tak berapa lama kemudian terjadi pertempuran hebat di sekitar jalan Malioboro. Keadaan baru tenang setelah pukul 02.00 dini hari.

Foto diunduh dari laman : gudeg.net

Sumber : potret.sejarahindonesia

Profil Editor

Share and Enjoy !

Shares