Sambang Desa, Bupati Ngawi Tinjau Pelayanan Administrasi Kependudukan dan Pengelolaan Anggaran Desa

Sambang Desa, Bupati Ngawi Tinjau Pelayanan Administrasi Kependudukan dan Pengelolaan Anggaran Desa

JAGIR.NGAWIKAB.ID – Sambang Desa merupakan Program Pemerintah Daerah Kabupaten Ngawi yang sudah menjadi agenda rutin. Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono dalam kegiatan tersebut dimulai dengan melaksanakan Sholat subuh berjamaah di Masjid Assalam Desa Jagir, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi. Jum’at (15/07)

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua TP PKK Ngawi, Ana Mursyida Ony Anwar, Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko serta jajaran Pemerintah Kabupaten Ngawi

Kehadiran Bupati Ngawi disambut oleh jajaran perangkat desa setempat serta Forpimcam Sine. Kegiatan sambang desa ini dimaksudkan untuk mengetahui secara langsung sejauh mana perkembangan desa-desa yang ada di Kabupaten Ngawi

Ony Anwar mengatakan, kegiatan ini sebagai evaluasi kinerja pemerintah daerah dan pengelolaan anggaran desa yang sudah diberikan pemerintah.

“Sambang desa ini untuk melihat serta evaluasi terkait implementasi program pembangunan yang dilakukan pemerintah, apakah sudah merata atau belum. Di samping itu bisa menyerap aspirasi masyarakat terhadap pembangunan Kabupaten Ngawi kedepan,” katanya.

Menurut Ony, kegiatan ini juga sebagai upaya meningkatkan gotong royong sesama warga dalam membangun desa.

Rangkaian kegiatan sambang desa Bupati Ngawi di Desa Jagir diantaranya meninjau Rumah tidak Layak Huni (RTLH) yang ada di desa jagir, Disela-sela kegiatan ini, Bupati Ngawi mengatakan bedah rumah merupakan salah satu wujud gotong-royong dalam percepatan penanganan masalah kesejahteraan sosial masyarakat di Kabupaten Ngawi.

Selain meninjau secara langsung RTLH, berbagai macam kegiatan juga dilaksanakan dalam sambang desa tersebut, antara lain :

Penyampaian secara simbolis pelayanan administrasi kependudukan dari Dispendukcapil untuk masyarakat desa terkait pelayanan KK, KTP, KIA, akte kelahiran dan akte kematian serta pelayanan kesehatan gratis sekaligus memberikan bantuan kepada warga

Adapun dalam rangkaian kegiatan tersebut juga dilaksanakan Peresmian Pondok pesantren Ibnu mas’ud oleh Bupati Ngawi Ony Anwar sekaligus penanaman pohon secara simbolis

Peninjauan peternakan kambing perah yang ada di Desa Jagir

Peninjaun Budidaya Bibit lele

Pelaksanaan vaksinasi ikan agar bisa bertahan dan lebih banyak dan meraih pendapatan dari hasil meningkatkan produksi agar bisa menggerakan roda perekonomiannya dengan pencapaian yang lebih maksimal, serta memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada Masyarakat 

Peninjauan anak-anak beserta guru di SDN Jagir 1

Kegiatan terakhir dilaksanakan di halaman Tugu PSHT Jagir disertai Pembagian sembako kepada masyarakat Desa Jagir

Share and Enjoy !

Shares
Strategi Pulihkan Ekonomi, Kecamatan Sine Luncurkan Sine Car Free Day dan Senam Bersama

Strategi Pulihkan Ekonomi, Kecamatan Sine Luncurkan Sine Car Free Day dan Senam Bersama

JAGIR.NGAWIKAB.ID – Pandemi Covid-19 yang melanda dua tahun terakhir, memiliki dampak yang luar biasa, termasuk sektor ekonomi. Saat ini, untuk menumbuhkan geliat ekonomi kemasyarakatan diperlukan sejumlah strategi agar bangkit dari keterpurukan, seperti yang dilakukan Pemerintah Kecamatan Sine bersama Pemerintah Desa se Kec. Sine dengan meluncurkan Sine Car Free Day dan Senam Bersama di Halaman Kantor Desa Sine, Kecamatan Sine, Minggu, (05/06/22) oleh Bupati Ngawi yang dalam hal ini diwakili oleh Sekda Kabupaten Ngawi, Mokh. Sodiq Triwidiyanto.

Launching Sine Car Free Day ini, nyatanya terbukti mampu menarik antusiasme masyarakat untuk ambil bagian bazar UMKM dan senam bersama yang diikuti masyarakat setempat.

Sekda Kab. Ngawi mengapresiasi kegiatan ini, dan menyatakan bahwa gotong royong dan kebersamaan adalah kunci upaya pemulihan ekonomi, ” Ini tentunya menjadi momentum yang patut kita teruskan. Sebab, kita melihat suasana guyub rukun, betul – betul kebersamaan. Dan, ini adalah modal dasar memulihkan ekonomi yang selama ini terpuruk karena Covid-19,” terangnya.

Sementara Camat Sine, Fuad Misbahauddin Fahmi mengungkapkan kegiatan ini pertama kali di gelar, dan berharap bisa menjadi agenda rutin kedepan dengan dukungan seluruh masyarakat Sine, “Sinergi dan kolaborasi yang baik antar desa akan menghasilkan output yang diharapkan masyarakat. “Harapannya ini akan mampu mendorong geliat ekonomi kerakyatan, dan kita juga mengundang seluruh Kepala Desa berserta perangkatnya se Kecamatan Sine sekalian silaturahmi,” terangnya.

Share and Enjoy !

Shares
Bebas Frambusia Pemerintah Kabupaten Ngawi Terima Penghargaan

Bebas Frambusia Pemerintah Kabupaten Ngawi Terima Penghargaan

JAGIR.NGAWIKAB.ID – Kabupaten Ngawi kembali mendapatkan prestasi dengan terbebasnya dari penyakit frambusia. Apresiasi kali ini datang dari Kementerian Kesehatan yang diterimakan melalui Bupati Ngawi pada Peringatan Hari Malaria Sedunia Tahun 2022.

Sertifikat bebas dari Frambusia diserahkan oleh Sekjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) di acara puncak Peringatan Hari Malaria Sedunia Tahun 2022 yang digelar di Mandalika Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Selasa (31/05/22).

Direktur Jenderal P2P, Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu menyampaikan bahwa daerah penerima Sertifikat Bebas Frambusia merupakan daerah yang sudah melewati beberapa tahapan untuk mendapatkan sertifikat frambusia.

Tahun 2022 ini, Sertifikat bebas dari Frambusia dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia diserahkan pada 47 kabupaten/kota termasuk Kabupaten Ngawi.

Frambusia adalah suatu infeksi bakteri jangka panjang (kronis) yang paling sering mengenai kulit, tulang, dan sendi. Kemenkes pun telah menetapkan Indonesia pada tahun 2024 telah bebas dari Frambusia.

Share and Enjoy !

Shares
KISAH KETEGUHAN ISTRI BUYA HAMKA

KISAH KETEGUHAN ISTRI BUYA HAMKA

JAGIR.NGAWIKAB.ID – Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka menikahi Siti Raham pada 5 April 1929. Saat itu usia Hamka 21 tahun, usia Siti Raham 15 tahun. Dari pernikahan ini lahir 10 anak yang masih hidup sampai dewasa. Ada dua anak yang meninggal saat kecil dan dua anak yang keguguran.

Menikah dengan Hamka, Siti Raham tetap tegar mengarungi hidup dalam kekurangan. “Kami hidup dalam suasana miskin. Sembahyang saja terpaksa bergantian karena di rumah hanya ada sehelai kain sarung. Tapi, Ummi kalian memang seorang yang setia. Dia tidak minta apa-apa di luar kemampuan Ayah,” tutur Buya Hamka yang direkam Rusydi dalam buku Pribadi dan Martabat Buya Hamka (1981).

Dalam keluarga, Siti Raham dipanggil Ummi. Sedangkan Siti Raham memanggil Hamka dengan sebutan Angku Haji. Kendati mendampingi Hamka berkeliling berbagai daerah, logat Sungai Batangnya tak hilang. Selain di Padang Panjang, Siti Raham membersamai Hamka di Makassar selama 3 tahun, di Medan selama 11 tahun, dan di Jakarta selama 22 tahun.

Hamka memang bukan pegawai atau pedagang. Penghasilannya semata-mata dari honorarium menulisnya. Karirnya melesat saat di Medan. Hamka diminta mengurusi majalah Pedoman Masyarakat. Majalah ini telah terbit sebelum Hamka berkecimpung. Sejak 1936, Hamka menggarap majalah itu.

Selain menulis artikel, Hamka juga menerbitkan buku. Di sisi lain, Hamka telah menjadi aktivis Muhammadiyah dan memberikan pengajian di mana-mana. Namun, nasib berputar 180 derajat ketika fitnah menerpa Hamka. Kawan-kawan dekatnya menjatuhkan martabatnya. Di Medan, Hamka murung dan gelisah.

Siti Raham yang menyaksikan suaminya suka melamun akhirnya bersuara, “Tak ada gunanya Angku Haji termenung seperti ini berlarut-larut. Jangan dengarkan kata orang yang tengah marah. Sebelum kita jadi gila memikirkannya, mari kita bawa anak-anak.”

Rusydi memaparkan, “Besoknya Ummi melelang barang-barangnya yang tak bisa dibawa ke kampung. Ummi pula yang mengurus kendaraan untuk membawa kami ke Padang Panjang.”

Kembali ke Padang Panjang, kondisi ekonomi terpontang-panting. Hamka tak punya penghasilan tetap. Penghasilannya sebagai juru tabligh tak seberapa. Rusydi mengenang, “Anak-anak memang tidak kelaparan, karena Ummi menjual harta benda simpanannya yang dibawa dari Medan. Kalung, gelang emas, dan kain-kain batik halus yang dibelinya di Medan sewaktu Ayah masih menjadi hoofdredakteur Pedoman Masyarakat, dijual dengan harga di bawah pasar, untuk dibelikan beras dan biaya sekolah anak-anak.”

Siti Raham berusaha tabah kendati sering menitikkan air mata saat mengambil kain-kain simpanannya dari almari. Melihat kondisi itu, Hamka terenyuh. Sempat ia menawarkan agar kain Bugisnya ikut dijual.

“Kain Angku Haji jangan dijual, biar kain saya saja, karena Angku Haji sering keluar rumah. Di luar jangan sampai Angku Haji kelihatan sebagai fakir yang miskin,” katanya.

Kepiluan ternyata tak kunjung reda. Saat Belanda berhasil menduduki Padang Panjang saat Agresi Militer Kedua pada 1948, seluruh kampung dalam pengepungan. Saat itu Hamka berkeliling sebagai juru penerangan rakyat. Tugas ini menyebabkan Hamka tak menjumpai keluarganya berminggu-minggu.

Dalam kekalutan, sesama tetangga tak bisa membantu. Semua orang sedang susah. Malah beberapa orang mati kelaparan. Barang yang dijual Siti Raham tak ada lagi.

Agar semua anak bisa makan, beras dimasak menjadi bubur. Semua anak bisa kebagian. Kalau beras tak didapatkan, makan ubi tak lagi terpaksa.

Setelah pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia, Hamka sekeluarga pindah ke Jakarta pada Januari 1950. Sejak tahun itu pula Hamka menjadi pegawai negeri Kementerian Agama golongan F. Namun, pada 1959, ada peraturan pemerintah bahwa pegawai negeri tidak boleh dobel tugas di partai politik.

Hamka yang aktif di Masyumi dilanda dilema. Hamka meminta pertimbangan istrinya. Siti Raham menjawab, “Jadi Hamka sajalah!”

Rusydi memberi kesaksian, “Saya tak melihat tanda-tanda kecemasan sedikit pun pada wajah Ummi, yang pasti akan kehilangan sekian ribu rupiah gaji, serta beras beberapa liter, yang selama beberapa tahun kami tunggu setiap bulan.”

Malam harinya, Siti Raham mengumpulkan anak-anaknya. “Ummi mengatakan, bahwa keadaan Ayah di hari-hari mendatang tidak begitu cerah, karenanya Ummi berharap kami tidak minta yang tidak-tidak. Kalau perlu yang sudah sanggup bekerja, mulailah mencari pekerjaan,” tulis Rusydi.

Siti Raham sangat menjaga kehormatan Hamka. Setiap Hamka keluar rumah, ia memastikan pakaian yang dikenakan suaminya bersih dan tidak sembarangan. Hamka telah menjadi milik masyarakat.

“Hormati tamu Ayah kalian. Kalau kalian lihat penyambutan mereka di daerah-daerah, kalian akan tahu betapa mereka menghormati Ayah seperti raja,” kata Siti Raham kepada anak-anaknya.

Ada kejadian ketika Hamka melawat ke Makassar. Saat itu Siti Raham diminta berpidato. Dia tak pernah naik mimbar, namun dengan percaya diri berpidato juga. Pidatonya membuat banyak orang riuh bertepuk tangan dan meneriakkan, “Hidup Ummi, hidup Ummi!”

“Waktu itu Ayah menitikkan air mata terharu,” kata Hamka kepada Rusydi. Apa yang disampaikan Siti Raham?

“Saya diminta berpidato, tapi sebenarnya Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak sendiri memaklumi, bahwa saya tak pandai pidato. Saya bukan tukang pidato seperti Buya Hamka. Pekerjaan saya adalah mengurus tukang pidato, dengan memasakkan makanan hingga menjaga kesehatannya. Oleh karena itu, maafkan saya tidak bisa bicara lebih panjang,” ucapnya.

Hidup dalam kesusahan merupakan sepenggal episode Siti Raham dalam mendampingi Hamka. Mereka juga melewati masa senang dan canda tawa.

Betapa besar perjuangan dan ketegaran Siti Raham, seorang perempuan yang sebenarnya turut menjadikan Hamka sebagai manusia besar. Wallahu a’lam.

Sumber Foto: Hamka dalam Kenang-Kenangan

Share and Enjoy !

Shares
Apel Pasukan Operasi Ketupat Semeru Tahun 2022, Antisipasi Pergerakan Masyarakat dan Euforia Mudik Idul Fitri 1443 H

Apel Pasukan Operasi Ketupat Semeru Tahun 2022, Antisipasi Pergerakan Masyarakat dan Euforia Mudik Idul Fitri 1443 H

JAGIR.NGAWIKAB.ID – Bertempat di Lapangan Hitam Yon Armed Kostrad 12 Ngawi, Jumat (22/04/22), Polres Ngawi gelar Apel Pasukan Operasi Ketupat Semeru 2022 yang dilakukan serentak di seluruh Polda dan Polres se-Indonesia untuk memastikan kesiapan operasi Kepolisian terpusat tahun 2022.

Apel Gelar pasukan Operasi Ketupat Semeru 2022 kali ini mengusung tema Wujud Sinergi Polri Dengan Instansi Terkait, Untuk Menjamin Masyarakat Aman dan Sehat Dalam Perayaan Idul Fitri 1443 H di Wilayah Hukum Polres Ngawi.

Apel gelar pasukan ini dihadiri Kapolres Ngawi AKBP I Wayan Winaya, Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono, Dandim 0805 Letkol. Inf. Adi Wirawan dan stakeholder terkait.

Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono selaku pimpinan apel membacakan amanat dari Kapolri bahwa pelaksanaan Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Semeru 2022 ini untuk menciptakan situasi Kamtibmas yang aman dan kondusif pada perayaan hari raya Idul Fitri 1443 Hijriah. “Dan apel ini dilaksanakan serentak di seluruh Polda dan Polres se-Indonesia, dalam rangka mengecek kesiapan operasi Kepolisian terpusat tahun 2022,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kapolri mengatakan perayan hari raya Idul Fitri sudah menjadi bagian dan tradisi masyarakat Indonesia dengan kegiatan ibadah, berkumpul dan bersilaturahmi, apalagi Pemerintah juga telah menetapkan libur nasional, “Berbeda dengan tahun lalu, saat ini Pemerintah memberikan kelonggaran kepada masyarakat untuk melaksanakan mudik lebaran,” terangnya Kapolri dalam amanatnya.

Pergerakan masyarakat, mobilitas serta euforia masyarakat yang akan melaksanakan mudik lebaran masih dalam kondisi pandemi Covid-19 namun terkendali menurut Kapolri, masih perlu melaksanakan aturan dan prosedur protokol kesehatan yang ditetapkan.

“Sehingga adanya kemungkinan terjadinya transmisi Covid-19 bisa kita kendalikan, Polri didukung TNI, Pemerintah Daerah, pemanku kepentingan lainya terus bersinergi dalam mensukseskan pelaksanaan Operasi Ketupat Semeru 2022,” lanjutnya.

Repost from : ngawikab

Profil Editor

Share and Enjoy !

Shares