Pesta Panen Padi Masyarakat Toba Tahun 1949

Pesta Panen Padi Masyarakat Toba Tahun 1949

JAGIR.NGAWIKAB.ID – Kebiasaan mengadakan pesta panen sama tuanya dengan sejarah Indonesia. Ini adalah satu-satunya pesta panen yang diselenggarakan oleh Masyarakat Toba di Sumatera Utara tahun 1949.

Saat itu Masih disebut dengan Negara Sumatera Timur, ketika Indonesia masih bentuk RIS (Republik Indonesia Serikat). Masing-masing wilayah di Indonesia memiliki tradisi pesta panen.

Selain menunjukkan bahwa kita kaya akan tradisi juga sebagai bukti sejarah bahwa nenek moyang kita sudah mandiri dalam hal pangan (Swasembada pangan).

Sumber: Lukisan Mingguan, Januari 1949. Koleksi Perpustakaan Nasional RI (skjil-team)

Baca juga :

Profil Editor

Share and Enjoy !

Shares
API DI BUKIT MENOREH JILID 1 DAN 2 – AWAL MULA BERDIRINYA MATARAM

API DI BUKIT MENOREH JILID 1 DAN 2 – AWAL MULA BERDIRINYA MATARAM

JAGIR.NGAWIKAB.ID – Dalam pada itu, Ki Tanu Metir, Ki Sumangkar, dan murid-muridnya berjalan semakin lama semakin menjauhi pedukuhan induk. Namun di sepanjang jalan beberapa orang yang mengenalnya, selalu menganggukkan kepalanya sambil bertanya,

“Kemanakah kalian akan pergi?”

“Kami akan menengok rumah kami,” jawab Kiai Gringsing.

“O, apakah kalian tidak akan kembali kemari?”

“Tentu. Kami akan kembali lagi.”

“Selamat jalan.”

“Terima kasih.”

Bahkan ada orang-orang yang mencoba untuk mempersilahkan mereka singgah.

“Kami akan senang sekali kalau kalian tinggal di rumah kami sehari dua hari.”

“Maafkanlah. Kami harus segera menyeberangi sungai Praga.”

“Kenapa tergesa-gesa?”

“Tidak apa-apa. Tetapi anak-anak sudah rindu kepada kampung halaman.”

Demikianlah, maka mereka berlima berjalan semakin lama semakin cepat. Matahari yang memanjat langit pun menjadi semakin lama semakin tinggi pula. Panasnya pun menjadi semakin tajam menggigit kulit.

Semakin lama, maka padukuhan-padukuhan pun menjadi semakin jarang dan kecil. Hampir tidak ada lagi orang-orang yang mengenal mereka, Orang-orang di padukuhan-padukuhan itu adalah orang yang setiap hari selalu tenggelam di dalam kerja, seperti yang selalu mereka lakukan sehari-hari. Pagi bangun tidur, makan sekedarnya, lalu pergi ke sawah. Di siang hari mereka berhenti. Makan dan minum.

Kemudian mereka melanjutkan kerja sampai matahari menjadi sangat rendah. Di senja hari mereka pulang, singgah di sungai sebentar membersihkan diri dan alat-alat mereka. Barulah mereka pulang. Kadang-kadang mereka masih makan sore, tetapi kadang-kadang sudah tidak lagi. Mereka langsung pergi tidur apabila tidak ada keperluan yang penting untuk keluar rumah.

Meskipun demikian, hidup mereka tampaknya sangat tenteram. Mereka sama sekali tidak mengacuhkan apa pun yang terjadi di luar pedukuhan mereka. Namun demikian, kemajuan tata kehidupan mereka pun sangat lamban, karena seolah-olah mereka menutup pintu padukuhan mereka dengan tata kehidupan yang sudah mereka miliki itu.

Ternyata, tata kehidupan yang demikian itu sangat menarik perhatian Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah. Kehidupan yang sangat sederhana.

“Apakah mereka akan tetap dalam keadaan yang demikian itu sampai puluhan tahun mendatang?” bertanya Agung Sedayu.

“Tentu tidak.” jawab Kiai Gringsing.

“Tetapi kalau tidak ada seseorang yang berani memasuki daerah itu dengan membawa adat dan cara-cara yang lebih baik untuk meningkatkan kehidupan mereka, mereka akan tetap dalam keadaannya,” sahut Swandaru.

“Bukankah tanah ini masih tlatah Menoreh?” tiba-tiba Kiai Gringsing bertanya.

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Nah. Kalau demikian, akan menjadi tugas Swandaru kelak untuk menerobos masuk sampai ke padukuhan yang terpencil ini.”

“Ah,” desis Swandaru, sedang Sekar Mirah tertawa sambil berkata, “Tetapi jangan kau mulai sejak sekarang. Kau sekarang belum apa-apa di sini.”

“Kupuntir telingamu,” potong Swandaru. Tetapi Sekar Mirah masih saja tertawa.

Sementara itu, langkah mereka menjadi semakin jauh. Ketika mereka menengadahkan wajah mereka, ternyata matahari telah melampaui puncak langit.

“Hem, aku haus,” desis Sekar Mirah.

“Kau tadi membawa bekal makanan dari Pandan Wangi, bukan?” bertanya Swandaru.

“Aku haus, tidak lapar,” jawab Sekar Mirah.

Swandaru terdiam. Tetapi mereka masih berjalan terus.

Sejenak kemudian mereka pun segera sampai ke hutan-hutan rindang. Hutan perburuan yang memanjang, sebelum mereka memasuki hutan lebat di seberatag hutan perburuan ini.

“Apakah kita akan langsung mencari tempat kediaman Ki Gede Pemanahan dan putranya, Sutawijaya?” bertanya Swandaru kemudian.

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tentu tidak. Kita ingin mengetahui keadaan sebenarnya. Kalau kita langsung mengunjungi Ki Gede Pemanahan dan putranya, maka kita tidak akan dapat melihat seluruh segi kehidupan di daerah baru itu. Kita hanya akan melihat apa yang pantas kita lihat, sehingga kita tidak akan dapat menilai daerah itu seperti yang sebenarnya, dipandang dari sudut kepentingan kita masing-masing. Bagi Sangkal Putung dan bagi Tanah Perdikan Menoreh.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Besok kita akan memasuki daerah itu. Kita akan melihat apakah yang sedang tumbuh itu akan bermanfaat bagi kita, bagi daerah-daerah di sekitarnya dan bagi keseluruhan keluarga besar di Pulau Jawa ini.”

“Pulau Jawa?” Swandaru mengerutkan keningnya.

Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Swandaru mengerutkan keningnya. Gurunya telah menyebut suatu tempat yang hanya dapat dibayangkan oleh Swandaru, Pulau Jawa. Suatu daerah yang tentu sangat luas.

“Apakah hubungannya daerah yang baru dibuka itu dengan Pulau Jawa?” bertanya Swandaru kemudian.

Gurunya tertawa. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Bukan salahmu, kalau kau mengajukan pertanyaan itu. Akulah yang seharusnya menunjukkan kepadamu, bahwa daerah baru itu akan mempengaruhi keadaan Pulau Jawa seluruhnya.”

“Tetapi, bukankah Pulau Jawa itu terbentang dari ujung timur sampai ke ujung barat?”

“Ya.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dicobanya untuk membayangkan, berapa luasnya daerah yang disebut oleh gurunya itu, Pulau Jawa.

“Apakah Pajang juga mempunyai pengaruh yang luas atas Pulau Jawa?” bertanya Agung Sedayu.

“Kau pernah mendengar hal itu?”

“Aku memang pernah mendengar.”

“Nah. Sekarang kalian tahu, bahwa pengalaman kalian itu baru setetes dari air yang melimpah-limpah di telaga. Tetapi untunglah bahwa kalian berada dekat dari pusat pemerintahan, yang mempengaruhi Pulau Jawa itu.”

“Maksud Guru?”

“Meskipun sudah jauh surut, tetapi Pajang memang masih mempunyai pengaruh atas Pulau Jawa. Di saat-saat terakhir Demak masih mengikat kesatuan banyak daerah-daerah di pesisir Utara membujur ke Timur. Tetapi sebagaimana kalian mengetahui, perpecahan di saat-saat lahirnya Pajang, telah membuat ikatan itu semakin kendor, sehingga banyak sekali daerah-daerah yang merasa berhak berdiri sendiri-sendiri. Kesatuan yang pernah dibina pada jaman Majapahit itu pun sedikit demi sedikit menjadi mundur.”

“Majapahit pernah mempersatukan bukan saja Pulau Jawa,” berkata Agung Sedayu.

“Ya. Nusantara. Pulau-pulau yang dibatasi oleh lautan-lautan yang luas.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang pernah mendengar cerita tentang kebesaran Majapahit. Perpecahan yang kemudian terjadi, sehingga yang masih dapat dilihatnya adalah perpecahan antara Pajang dan Jipang sepeninggal Sultan Demak yang terakhir.

Sekilas terbayang Kademangan Sangkal Putung yang kaya raya. Tetapi Sangkal Putung adalah sebagian kecil, kecil sekali dari seluruh Pulau Jawa. Seluruh Nusantara.

Namun kemudian terbersit pertanyaan di hatinya, “Benarkah Sutawijaya itu mampu berbuat sesuatu yang akan dapat mempengaruhi seluruh Pulau Jawa? Memang ia mempunyai banyak kelebihan dari kami, aku dan Kakang Agung Sedayu, tetapi dalam suatu saat kami pun mampu memiliki ilmu setingkat itu. Dan apabila demikian, apakah kami pun mampu berbuat sesuatu yang dapat berkumandang sampai ke ujung-ujung Pulau Jawa ini?”

Tetapi Swandaru tetap menyimpan pertanyaan itu di dalam hatinya.

“Kalau kalian ingin lebih jelas lagi,” berkata Kiai Gringsing, “bertanyalah kepada Ki Sumangkar. Sebagai seorang yang selalu berada di lingkungan kepatihan, ia pasti jauh lebih mengetahui masalah-masalah pemerintahan daripada aku.”

“Ah,” desis Sumangkar. Namun Sekar Mirah segera bertanya, “Benarkah begitu, Guru?”

“Aku adalah seorang juru masak di kepatihan.”

Kiai Gringsing tertawa. Tetapi ia tidak berkata apa-apa.

“Seharusnya Guru sering bercerita kepadaku tentang susunan pemerintahan. Kalau Guru bercerita, hanyalah sekedar garis besarnya saja. Pada suatu saat aku ingin mengetahui lebih banyak lagi, sehingga aku dapat membayangkan tata pemerintahan dari suatu negara yang besar. Bukan sekedar sebuah kademangan. Dengan demikian kami tidak merasa bahwa seolah-olah yang paling penting di muka bumi ini.”

Sumangkar tersenyum. Desisnya, “Kiai membebani aku pekerjaan yang aku tidak mengerti.”

Kiai Gringsing pun tertawa pula. “Sudah waktunya hati anak-anak itu terbuka, melihat dunia yang semakin luas ini. Dengan demikian mereka sadar, bahwa lingkungan mereka sebenarnya amat luas. Bukan sekedar pasukan Tohpati yang berada di sekitar Sangkal Putung, kemudian datang Widura dan Untara membawa sebagian kecil dari pasukannya. Anak-anak harus tahu, bahwa itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan cerita mengalirnya peme-rintahan sejak jaman dahulu kala. Sejak jaman Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Bahkan sebelumnya, sampai pada jaman kebesaran Majapahit, kemudian menurun dengan pesatnya sejak Demak kehilangan rajanya yang terakhir.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bukankah masalah Tohpati yang kehilangan sasaran perjuangannya itu akan menjadi sangat berlainan dengan saat-saat daerah baru yang sedang tumbuh ini? Benturan antara Tohpati dan Untara di sekitar Sangkal Putung adalah merupakan babak-babak terakhir dari tenggelamnya kekuasaan Adipati Jipang. Masalahnya merupakan masalah yang dapat dibatasi menjadi masalah setempat, Sangkal Putung. Tetapi yang sedang tumbuh ini mendapat sorotan dari segenap wilayah Pajang, karena justru Ki Gede Pemanahan sendiri yang menyingkir dari lingkungan istana, setelah Ki Penjawi menempati tanahnya yang baru, Pati.”

Kedua orang-orang tua itu tiba-tiba berpaling ketika mereka mendengar Swandaru berdesah.

“Swandaru,” berkata Kiai Gringsing “kau dan Agung Sedayu harus mencoba untuk mengerti masalah-masalah ini. Kalian akan mempunyai wewenang meskipun di daerah yang kecil. Tetapi daerah-daerah yang kecil itulah yang menumbuhkan daerah yang lebih besar dan seterusnya.”

Keduanya pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Terbayang di hadapan mereka masalah yang jauh lebih besar dari api yang membakar Tanah Perdikan Menoreh.

Masalah daerah baru yang dimulai dengan nada yang sumbang itu akan langsung menyangkut pimpinan tertinggi pemerintah. Seperti pada masa Adipati Jipang masih ada. Bukan sekedar pecahan-pecahan pasukan yang berserakan.

Dengan demikian, maka kelima orang itu harus mempersiapkan dirinya untuk memasuki suatu daerah yang masih di bayangi oleh kekelaman, seakan-akan mereka hendak meloncat ke dalam gelap. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya ada di belakang kegelapan itu.

Mereka baru mendengar daerah baru itu dari Sutawijaya. Yang barang tentu, akan memiliki masalah-masalah yang dapat dikatakannya. Yang tidak, tentu akan disembunyikannya.

Karena itu, Kiai Gringsing sudah bertekad untuk melihat daerah baru itu langsung tanpa memberitahukan lebih dahulu kepada Sutawijaya, apalagi Ki Gede Pemanahan.

Namun pada hari itu kelima orang itu tidak dapat langsung mencapai Alas Mentaok. Hutan yang lebat di sebelah-menyebelah Kali Praga, agaknya menghambat jalan mereka. Mereka harus mencari jalan setapak yang sering dilalui para pedagang yang saling tukar menukar barang-barang antara mereka yang tinggal di sebelah sungai.

Tetapi kelima orang itu sadar, bahwa kadang-kadang di perjalanan mereka menjumpai penyamun yang masih saja berkeliaran. Apalagi dengan tumbuhnya daerah baru, maka jalan setapak itu menjadi lebih sering dilalui, sehingga para penyamun menjadi semakin mantap melakukan pengintaian. Meskipun demikian, kadang-kadang para penyamun itu gagal melakukan kegiatannya, karena serombongan pedagang yang lewat, dikawal oleh orang-orang yang cukup mampu melayani penyamun-penyamun kecil yang berkeliaran itu.

“Kita bermalam di sebelah timur sungai,” berkata Kiai Gringsing. “Besok kita mencari tempat yang baik untuk membuat gubug. Kita akan tinggal di tempat itu untuk sementara.”

“Kita akan tinggal?” bertanya Sekar Mirah.

“Ya.”

“Berapa hari?”

“Aku tidak dapat menyebutkan, Mirah. Mungkin sehari, mungkin sebulan.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berkata, “Sebenarnya aku ingin tinggal bersama Kiai, Kakang Swandaru, dan Kakang Agung Sedayu,” suaranya tiba-tiba merendah. Sambil berpaling kepada gurunya ia bertanya, “Tetapi bagaimana dengan Ibu di rumah, Guru?”

Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab.

Profil Editor

Share and Enjoy !

Shares