KISAH KETEGUHAN ISTRI BUYA HAMKA

KISAH KETEGUHAN ISTRI BUYA HAMKA

JAGIR.NGAWIKAB.ID – Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka menikahi Siti Raham pada 5 April 1929. Saat itu usia Hamka 21 tahun, usia Siti Raham 15 tahun. Dari pernikahan ini lahir 10 anak yang masih hidup sampai dewasa. Ada dua anak yang meninggal saat kecil dan dua anak yang keguguran.

Menikah dengan Hamka, Siti Raham tetap tegar mengarungi hidup dalam kekurangan. “Kami hidup dalam suasana miskin. Sembahyang saja terpaksa bergantian karena di rumah hanya ada sehelai kain sarung. Tapi, Ummi kalian memang seorang yang setia. Dia tidak minta apa-apa di luar kemampuan Ayah,” tutur Buya Hamka yang direkam Rusydi dalam buku Pribadi dan Martabat Buya Hamka (1981).

Dalam keluarga, Siti Raham dipanggil Ummi. Sedangkan Siti Raham memanggil Hamka dengan sebutan Angku Haji. Kendati mendampingi Hamka berkeliling berbagai daerah, logat Sungai Batangnya tak hilang. Selain di Padang Panjang, Siti Raham membersamai Hamka di Makassar selama 3 tahun, di Medan selama 11 tahun, dan di Jakarta selama 22 tahun.

Hamka memang bukan pegawai atau pedagang. Penghasilannya semata-mata dari honorarium menulisnya. Karirnya melesat saat di Medan. Hamka diminta mengurusi majalah Pedoman Masyarakat. Majalah ini telah terbit sebelum Hamka berkecimpung. Sejak 1936, Hamka menggarap majalah itu.

Selain menulis artikel, Hamka juga menerbitkan buku. Di sisi lain, Hamka telah menjadi aktivis Muhammadiyah dan memberikan pengajian di mana-mana. Namun, nasib berputar 180 derajat ketika fitnah menerpa Hamka. Kawan-kawan dekatnya menjatuhkan martabatnya. Di Medan, Hamka murung dan gelisah.

Siti Raham yang menyaksikan suaminya suka melamun akhirnya bersuara, “Tak ada gunanya Angku Haji termenung seperti ini berlarut-larut. Jangan dengarkan kata orang yang tengah marah. Sebelum kita jadi gila memikirkannya, mari kita bawa anak-anak.”

Rusydi memaparkan, “Besoknya Ummi melelang barang-barangnya yang tak bisa dibawa ke kampung. Ummi pula yang mengurus kendaraan untuk membawa kami ke Padang Panjang.”

Kembali ke Padang Panjang, kondisi ekonomi terpontang-panting. Hamka tak punya penghasilan tetap. Penghasilannya sebagai juru tabligh tak seberapa. Rusydi mengenang, “Anak-anak memang tidak kelaparan, karena Ummi menjual harta benda simpanannya yang dibawa dari Medan. Kalung, gelang emas, dan kain-kain batik halus yang dibelinya di Medan sewaktu Ayah masih menjadi hoofdredakteur Pedoman Masyarakat, dijual dengan harga di bawah pasar, untuk dibelikan beras dan biaya sekolah anak-anak.”

Siti Raham berusaha tabah kendati sering menitikkan air mata saat mengambil kain-kain simpanannya dari almari. Melihat kondisi itu, Hamka terenyuh. Sempat ia menawarkan agar kain Bugisnya ikut dijual.

“Kain Angku Haji jangan dijual, biar kain saya saja, karena Angku Haji sering keluar rumah. Di luar jangan sampai Angku Haji kelihatan sebagai fakir yang miskin,” katanya.

Kepiluan ternyata tak kunjung reda. Saat Belanda berhasil menduduki Padang Panjang saat Agresi Militer Kedua pada 1948, seluruh kampung dalam pengepungan. Saat itu Hamka berkeliling sebagai juru penerangan rakyat. Tugas ini menyebabkan Hamka tak menjumpai keluarganya berminggu-minggu.

Dalam kekalutan, sesama tetangga tak bisa membantu. Semua orang sedang susah. Malah beberapa orang mati kelaparan. Barang yang dijual Siti Raham tak ada lagi.

Agar semua anak bisa makan, beras dimasak menjadi bubur. Semua anak bisa kebagian. Kalau beras tak didapatkan, makan ubi tak lagi terpaksa.

Setelah pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia, Hamka sekeluarga pindah ke Jakarta pada Januari 1950. Sejak tahun itu pula Hamka menjadi pegawai negeri Kementerian Agama golongan F. Namun, pada 1959, ada peraturan pemerintah bahwa pegawai negeri tidak boleh dobel tugas di partai politik.

Hamka yang aktif di Masyumi dilanda dilema. Hamka meminta pertimbangan istrinya. Siti Raham menjawab, “Jadi Hamka sajalah!”

Rusydi memberi kesaksian, “Saya tak melihat tanda-tanda kecemasan sedikit pun pada wajah Ummi, yang pasti akan kehilangan sekian ribu rupiah gaji, serta beras beberapa liter, yang selama beberapa tahun kami tunggu setiap bulan.”

Malam harinya, Siti Raham mengumpulkan anak-anaknya. “Ummi mengatakan, bahwa keadaan Ayah di hari-hari mendatang tidak begitu cerah, karenanya Ummi berharap kami tidak minta yang tidak-tidak. Kalau perlu yang sudah sanggup bekerja, mulailah mencari pekerjaan,” tulis Rusydi.

Siti Raham sangat menjaga kehormatan Hamka. Setiap Hamka keluar rumah, ia memastikan pakaian yang dikenakan suaminya bersih dan tidak sembarangan. Hamka telah menjadi milik masyarakat.

“Hormati tamu Ayah kalian. Kalau kalian lihat penyambutan mereka di daerah-daerah, kalian akan tahu betapa mereka menghormati Ayah seperti raja,” kata Siti Raham kepada anak-anaknya.

Ada kejadian ketika Hamka melawat ke Makassar. Saat itu Siti Raham diminta berpidato. Dia tak pernah naik mimbar, namun dengan percaya diri berpidato juga. Pidatonya membuat banyak orang riuh bertepuk tangan dan meneriakkan, “Hidup Ummi, hidup Ummi!”

“Waktu itu Ayah menitikkan air mata terharu,” kata Hamka kepada Rusydi. Apa yang disampaikan Siti Raham?

“Saya diminta berpidato, tapi sebenarnya Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak sendiri memaklumi, bahwa saya tak pandai pidato. Saya bukan tukang pidato seperti Buya Hamka. Pekerjaan saya adalah mengurus tukang pidato, dengan memasakkan makanan hingga menjaga kesehatannya. Oleh karena itu, maafkan saya tidak bisa bicara lebih panjang,” ucapnya.

Hidup dalam kesusahan merupakan sepenggal episode Siti Raham dalam mendampingi Hamka. Mereka juga melewati masa senang dan canda tawa.

Betapa besar perjuangan dan ketegaran Siti Raham, seorang perempuan yang sebenarnya turut menjadikan Hamka sebagai manusia besar. Wallahu a’lam.

Sumber Foto: Hamka dalam Kenang-Kenangan

Share and Enjoy !

Shares
Kisah Monyet dan Angin – Inspirasi Kisah Penuh Hikmah

Kisah Monyet dan Angin – Inspirasi Kisah Penuh Hikmah

JAGIR.NGAWIKAB.ID – Alkisah, terdapat seekor monyet sedang nangkring di pucuk pohon kelapa, Dia nggak sadar sedang diintip oleh tiga angin besar. Yaitu Angin Topan, Angin Tornado dan Angin Bahorok.

Ketiga angin tersebut rupanya sedang membicarakan sang monyet yang sedang nangkring di pucuk kelapa, siapa yg bisa paling cepat menjatuhkan si monyet dari pohon kelapa itu.

Pertama-tama, Angin Topan bilang dia cuma butuh waktu 45 detik untuk menjatuhkan si monyet.

Angin Tornado pun tidak mau kalah dengan angina topan, kemudian angina tornado bilang, saya hanya butuh waktu 30 detik agar monyet itu jatuh. katanya.

Sedangkan Angin Bahorok tersenyum melihat percakapan angina topan dan angina tornado tersebut dan bilang, saya hanya butuh waktu 15 detik untuk menjatuhkan monyet itu. Kata angina Bahorok dengan nada mengejek

Baca juga :

Akhirnya satu persatu dari ketiga angin itu maju dan berusaha menjatuhkan monyet itu.

Pertama, angina topan meniup dengan sekencang-kencangnya, Wuuusss…

Merasa ada angin besar yang datang, seketika si monyet langsung memegang batang pohon kelapa tersebut dengan sekuat-kuatnya, dan beberapa menit berlalu, Monyet itu tidak jatuh dan masih diatas pohon kelapa tersebut, dan akhirnya Angin Topan pun menyerah.

Yang kedua Giliran Angin TORNADO, Dia meniup sekencang-kencangnya dan kelihatan monyet itu tidak jatuh juga, dan sama seperti angina topan, angina tornado pun menyerah juga menyerah.

Kali ini yang terakhir giliran Angin BAHOROK yang sedikit meremehkan kedua angina tersebut mencoba meniup dengan lebih kencang lagi.

Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah semakin kencang memegang batang kelapa tersebut. Alhasil, monyet itu tak pernah jatuh

Ketiga angin besar tersebut itu akhirnya mengakui kalau si monyet memang jagoan yang tangguh, Daya tahannya luar biasa.

Baca juga :

Pada waktu yang bersamaan, datang angin sepoi-sepoi menghampiri ketiga angina besar tersebut dan dia bilang mau ikutan menjatuhkan monyet yang ada di atas pohon kelapa tersebut.

Keinginanya itu di tertawakan oleh ketiga angina besar tersebut dan berkata, Kami saja angina yang besar tak bisa menjatuhkan monyet itu, apalagi kamu yang hanya angina sepoi-sepoi, terang ketiga angina tersebut dengan nada tertawa.

Tanpa basa bayi dan banyak omong, angin sepoi-sepoi itu pun langsung meniup ubun-ubun si monyet dengan lembut. Psssss…

Enak banget, adem, Seger, Riyep-riyep matanya si monyet dan tidak lama kemudian si monyet itu akhirnya ketiduran dan lepaslah pegangan monyet itu. Alhasil, monyet itu jatuh.

Pesan Moral yang dapat kita ambil dari cerita tersebut adalah:

Boleh jadi ketika kita diuji dengan Kesusahan, Dicoba dengan Penderitaan, Didera Malapetaka, Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

Akan tetapi jika kita diuji dengan Kenikmatan, Kesenangan, Kelimpahan harta dan kekuasaan. Disitulah kita justru akan lalai dengan Sang Pencipta.

Jangan sampai kita terlena, terbuai, Tetap Rendah hati, Mawas diri, Sederhana, Berbuat Amal karena bukan Kritikan yang membuat anda Jatuh, tetapi sanjungan dan pujian yang bisa menjatuhkan anda.

Hari ini mungkin penuh banyak kenangan yang tidak bisa terlupakan, namun biarlah kenangan tersebut menjadi sebuah cerita yang bisa dijadikan motivasi di masa mendatang. semoga masa depan akan lebih baik di bandingkan hari sebelumnya, Jangan membawa luka masa lalu untuk menuju masa depan, cukup jadikan luka tersebut menjadi pelajaran untuk lebih baik kedepannya.

Profil Editor

Share and Enjoy !

Shares