SERDADU BELANDA YANG MEMBELOT KE PIHAK INDONESIA DAN BERGABUNG DENGAN DIVISI SILIWANGI

SERDADU BELANDA YANG MEMBELOT KE PIHAK INDONESIA DAN BERGABUNG DENGAN DIVISI SILIWANGI

JAGIR.NGAWIKAB.ID – Johannes Cornelis Princen atau yang sering dikenal dengan Poncke Princen adalah seorang serdadu Belanda yang sangat hebat.

Ia terlibat di banyak sekali perang di Indonesia. Meski pernah terlibat perang ia justru memihak Indonesia pada tahun 1948.

Poncke sudah muak melihat aksi negaranya yang tidak mau memberikan kemerdekaan secara utuh bagi Indonesia. Bahkan terus menekan tanpa belas kasihan.


Akhirnya Poncke menyeberang dan bergabung dengan pejuang Indonesia. Ia terlihat serangan umum 1 Maret 1949 dengan bergabung bersama divisi Siliwangi.

Berkat aksinya yang sangat hebat ini, Poncke mendapatkan anugerah Bintang Gerilya dari Presiden Soekarno.

Saat itu ia masih berkewarganegaraan Belanda. Bisa dibayangkan betapa hebatnya perjuangan yang dilakukan seorang Belanda untuk kemerdekaan Indonesia.

Sumber : arsipindonesia.com


Profil Editor

Share and Enjoy !

Shares
PERANG GERILYA JENDERAL SOEDIRMAN

PERANG GERILYA JENDERAL SOEDIRMAN

JAGIR.NGAWIKAB.ID – Perang gerilya yang dipimpin oleh Jenderal Besar Raden Soedirman, perwira tinggi kelahiran 24 Januari 1916. Strategi perang ini merupakan respons atas Agresi Militer Belanda II. Dalam kondisi lemah akibat penyakit TBC, Soedirman tak gentar untuk terus bergerilya melawan penjajah. Bersama sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, mereka berjalan jauh melewati hutan, gunung, sungai, dan lembah.

Puncak perang ini terjadi pada pagi hari di tanggal 1 Maret 1949. Serangan besar-besaran ini dilakukan di seluruh wilayah Indonesia dengan fokus utama di Yogyakarta, ibu kota Indonesia pada masa itu. Dalam waktu 6 jam, Kota Yogyakarta berhasil dikuasai oleh pasukan Indonesia dan peristiwa ini dikenang sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949.

Berita terkait :

Sedihnya, setelah peristiwa tersebut, Soedirman masih harus berjuang untuk melawan TBC. Ia dirawat berpindah-pindah, dari Panti Rapih, sanatorium di dekat Pakem, hingga pindah ke Magelang di bulan Desember 1949. Soedirman mengembuskan napas terakhirnya di Magelang pada 29 Januari 1950 pukul 18:30 pada usia yang relatif muda, yakni 34 tahun.

Selamat jalan, pahlawan!

Sumber : albumperjuangankemerdekaan

Profil Editor

Share and Enjoy !

Shares
Potret prajurit TRI Saat Genjatan Senjata di Surabaya

Potret prajurit TRI Saat Genjatan Senjata di Surabaya

JAGIR.NGAWIKAB.ID – Potret prajurit TRI (Tentara Republik Indonesia) saat gencatan senjata dengan Marinir Belanda pada tanggal 30 Oktober 1946 di front Surabaya, Jawa Timur (front Surabaya dimaksud disini antara lain Mojokerto, Sidoarjo, Gresik dan Surabaya sekitarnya).

Dalam foto tersebut, Terlihat mereka semua berusia muda, ekspresi mereka menggambarkan umumnya para pemuda bersama rekan-rekannya.

Foto tersebut sepertinya di ambil oleh Fotografer dari Marinir Belanda dan meminta mereka untuk tersenyum saat diambil gambarnya, yang terjadi selanjutnya prajurit kanan depan memberikan ekspresi senyumnya.

Para pejuang yang gugur umumnya berusia seperti mereka. Dalam usia muda harus dihabiskan untuk berjuang. Mungkin juga diantara ketujuh prajurit muda ini nantinya ada yang gugur, karena gencatan senjata ini hanya sesaat. Dimana pertempuran terus berlanjut sampai tahun 1949.

Sumber foto: potret album sejarah

Berita terkait :

Profil Editor

Share and Enjoy !

Shares
Serangan Umum Pasca 19 Desember 1948

Serangan Umum Pasca 19 Desember 1948

JAGIR.NGAWIKAB.ID – Pasca 19 Desember 1948, pasukan TNI yang menyingkir di sekitar pinggiran kota Yogyakarta mulai melakukan konsolidasi dan re-grouping kekuatan. Serangkaian aksi balasan dan gangguan terhadap patroli serta kedudukan pos militer Belanda dilakukan walau hanya bersifat insidental dan sporadis.

Aksi-aksi balasan ini hanya bersifat lokal, artinya hanya meliputi satuan TNI atau laskar tertentu dan pada wilayah tertentu pula. Meskipun menimbulkan kerugian pada pihak militer Belanda, namun strategi balasan ini dianggap kurang efektif, terutama dalam mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap eksistensi Republik serta diplomasi internasional.

Menyadari hal ini para pemimpin militer Republik kemudian merumuskan dan merencanakan sebuah Serangan Spektakuler yang dilakukan secara sistematis, terencana dan serentak untuk menunjukkan kepada dunia bahwa TNI sebagai kekuatan penopang Republik masih ada bahkan mampu memberi perlawanan kuat.

Namun demikian, sebelum Serangan Spektakuler itu dilaksanakan, Angkatan Perang Republik sebenarnya telah pula melakukan empat kali “Serangan Umum” terhadap pos-pos kedudukan tentara Belanda di dalam kota Yogyakarta, antara lain pada tanggal 29 Desember 1948, 9 Januari 1949, 16 Januari 1949, dan 4 Februari 1949.

Serangan-serangan ini juga cukup mengejutkan militer Belanda. George T. McKahin menuturkan tentang apa yang dialaminya pada Serangan Umum tanggal 9 Januari 1949. Ketika itu, dirinya berada di Hotel Merdeka (sekarang Hotel Garuda in) Jalan Malioboro.

Kahin yang sedang menulis pada jam 10 malam, tiba-tiba terdengar rentetan senjata otomatis dan dentuman mortir. Listrik kemudian dimatikan dengan tujuan menghindari korban dari dalam hotel yang telah menjadi sasaran serangan tentara Republik.

Tak berapa lama kemudian terjadi pertempuran hebat di sekitar jalan Malioboro. Keadaan baru tenang setelah pukul 02.00 dini hari.

Foto diunduh dari laman : gudeg.net

Sumber : potret.sejarahindonesia

Profil Editor

Share and Enjoy !

Shares
Sejarah Singkat Pahlawan Nasional H.O.S. Tjokroaminoto

Sejarah Singkat Pahlawan Nasional H.O.S. Tjokroaminoto

JAGIR.NGAWIKAB.ID – Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. H. O. S. Tjokroaminoto atau yang bernama lengkap Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto adalah seorang tokoh yang disebut sebagai Bapak Bangsa Indonesia karena merupakan guru dari banyak Tokoh Indonesia, seperti Sukarno, Semaoen, Musso, hingga Maridjan Kartosoewirjo.

H. O. S. Tjokroaminoto aktif terlibat dalam pergerakan bangsa, antara lain pernah menjadi ketua Partai Syarikat Islam (PSI) dan Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII).

Tjokroaminoto lahir dari keluarga kyai dan ulama Ponorogo, sehingga bisa dikatakan beliau berasal dari keluarga yang status sosialnya tinggi.

Baca juga :

Tjokroaminoto lahir di Madiun tahun 16 Agustus 1882. Lahir dari keluarga seorang wedana, tidak membuat Tjokroaminoto lantas tinggal bersama orang tuanya. Tjokroaminoto memilih hijrah ke Surabaya tahun 1907.

Beliau kemudian tinggal di Jalan Peneleh, Surabaya bersama anak dan istrinya. Tjokroaminoto memiliki lima anak hasil perkawinannya dengan Soeharsikin.

Tjokroaminoto kemudian aktif berorganisasi dengan ikut mendirikan Sarekat Islam, dan kemudian memimpin Sarekat Islam Surabaya dari tahun 1912 hingga 1934.

Tjokroaaminoto wafat tanggal 17 Desember 1934, dan atas jasa-jasanya, beliau dianugrahkan sebagai Pahlawan Nasional di tahun 1961.

Sumber : arsip nasional republik indonesia

Baca juga :

Profil Editor

Share and Enjoy !

Shares
Perjuangan Ratu Aceh Sang Pahlawan Kesuma Bangsa

Perjuangan Ratu Aceh Sang Pahlawan Kesuma Bangsa

JAGIR.NGAWIKAB.ID – Terlihat seorang wanita renta duduk diantara empat pria. Wajahnya menunduk seolah menahan rasa sakit, dengan kedua tangan diletakkan diatas paha.

“Ini adalah foto terakhir Cut Nyak Dien, pejuang perempuan yang bernyali singa di tempat pembuangannya di Sumedang (1904-1908).

Beliau sudah terlihat mengalami gangguan kesehatan terutama penglihatannya, tetapi sambil mengajar agama hingga akhir hayatnya.

Baca juga :

Belanda mengasingkan “Ratu Aceh” ini untuk mencegah pengaruhnya yang menyebarkan semangat perang pada rakyat Aceh. Cut Nyak Dien, pemimpin perang wanita di garis depan yang telah berhasil menghancurkan markas Belanda pada tahun 11 Februari 1899.

Sang pahlawan Kesuma bangsa ini wafat pada 6 November 1908 di tempat pembuangannya di Sumedang. sumber : perpustakaan nasional.

Profil Editor

Share and Enjoy !

Shares